Lalu datanglah Magek Manandin, duduk di dekat bapak kandung, berkata Datuak Bandaharo, “Anak Kandung Magek Manandin, genggam petuah baik-baik, buhul di dalam ikat pinggang, seumur hidup jangan dilupakan , tandanya kita orang muda, muda yang ada empat perkara.
Pertama muda pusaka, kedua muda adat, ketiga muda limbaga, dan keempat muda menerawang, akan Bapak jelaskan satu persatu.
Yang disebut muda pusaka, adalah mandi di hilir-hilir, berkata i bawah-bawah, aluran mamak dipanggil mamak, aluran bapak dipanggil bapak, jangan terlalu beriang hati, jangan suka meninggikan diri, jangan sombong karena harta, hina dan mulia demikian juga, bangsa janganlah dibanggakan, ingatlah akan kehinaan diri, begitulah tanda orang beradat, itulah yang disebut muda pusaka.
Yang disebut muda adat, serupa hampir seroman, berkata di bawah-bawah, mulut manis kucindan murah, kalau bertemu korong dan kampung, aluran adik ataupun kakak, walaupun orang senagari, beserta sanak dan saudara, hina ataupun mulia, perlulah meraka disapa, dari mana hendak ke mana, tua tetap dimuliakan, sementara yang muda dikasihi.
Pekerjaan apapun dalam kampung, tidaklah dipatahinya, walaupun salung dan puput, serta rebab dan kecapi, suka tidak suka anak pada itu, di lahir maniskan rupa, di batin boleh diganti, dari segala hal yang buruk, yang baiknya kemukan kan jua.
Yang disebut muda limbaga, kalau sesat bisa diganjur surut ke yang benar, mau ditunjuk diajari, tidak membantah pada kebaikan.
Yang disebut muda menerawang, adalah tidak berpendirian, ke sana elok ke mari baik, bagai pimping di lereng tebing, ke mana angin kencang, ke sana pula condongnya, tidak mengingat akhir kelaknya, baru teringat langsung melompat.
163