Lompat ke isi

Halaman:Magek Manandin.pdf/18

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah

Telah sepekan gelanggang ramai, ramailah rebab dan kecapi, puput salung tidak terhitung, berkumpul anak-anak muda.

Padi sudah bertimbun-timbun
Pinang sudah bertandan-tandan;
Anak gadis berduyun-duyun
Anak bujang bertolan-tolan

Telah lama gelanggang ramai, telah banyak kerbau dibantai, habis beras berkarung-karung, namun jodoh belumlah dapat, calon suami Puti Linduang Bulan,

Balam tembaga tiga gaya
Murai berkicau di atas pintu;
Salam takzim badan hamba
cerita beralih tentang itu

Sungguh beralih di situ jua, alihnya kepada Datuak Bandaharo. Itulah orang yang termasyur, yang geneang1 di kampung Situmangkuto, di ranah kampung Sumani, mulut manis kucindan murah, tahu di adat dan syarak, orang kampung menyayanginya.

Ketika Datuak Bandaharo, sedang duduk-duduk di serambi, lalu tersirap darah di dada, hati yang tidak tenang lagi, hilang pikiran seketika, entah apa yang dirusuhkan, hati yang sedang berharapharap jua.

Tampak Bujang Salamat di laman, membawa sepucuk surat, lalu berkata Bujang Salamat, “Duhai Datuak Tuan denai, inilah sepucuk surat, dari Tuanku Rajo Kuaso, dari ranah Kampuang Dalam.”

Surat diterima Datuak Bandaharo, lalu dibacalah surat itu, dari awal sampai akhir, surat undangan ke gelanggang, sudah rapat basa dan pengulu2, serta anak raja-raja.

Sedangkan Datuak Bandaharo, sesudah surat dibacanya, dipikir-pikir dimenungkan, telah terniat dalam hati, maksud hendak pergi berhelat.

1) Terkenal 2) Penghulu Adat


7