Lompat ke isi

Halaman:Magek Manandin.pdf/20

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah
↓Laman ko alah sah

Lalu menyeru Datuak Bandaharo “Adik Kandung Bujang

Salamat, Adik ambil malah kuda, pasangkan pula pelananya.”

Oleh si Bujang Salamat, selesai pula yang demikian, bersiaplah Datuak Bandaharo, dipakainya celana yang panjang, diambilnya baju beludru, bersarung bugis capit udang, lalu dipakai destar seluk, dikunyah sirih yang sekapur, lalu menurun Ia ke bawah, sampailah Ia di halaman.

Berkejaran bayang-bayang gigi, gigi putih bak camin taruih3, ditunggangi pula kuda, si Bujang Salamat mengiringkan, dibawa ayam si Kinantan, serta urai tiga kaca.

Telah serentang perjalanan, karena lambat laun di jalan, jalan panjang berliku-liku, puding emas berumpun-rumpun, hampir kan tiba lah dirinya, hampir tibalah di sana, di ranah Sandiangbaka, di gelanggang si Linduang Bulan, lalu turunlah dari atas kuda.

Telah disonsong orang yang banyak, disonsong basa dan penghulu, serta dubalang yang berempat, haru biru orang banyak, rusuhlah orang semuanya, telah datang orang yang patut, jodoh Puti Linduang Bulan.

Orang banyak pun haru biru, melihat orang yang baru datang, lalu berkata masa itu, “Inilah jodoh puti kita, alamat lekas gelanggang usai, yang menang bersenang hati, yang kalah bermenung saja.”

Kabar beralih kemudian, alihnya di sana jua, beralih pada Rajo Kuaso, naiklah beliau ke atas rumah, berkata Rajo Kuaso,

“Adik kandung Linduang Bulan, mengapa adik lalai jua, segeralah adik bersiap, raja yang patut sudah datang, kalau diuji sama merah, kalau ditimbang sama berat, bergelar Datuak Bandaharo, orang ranah kampung Sumani.”

Sementara Puti Linduang Bulan, telah siap Ia berkemas, dikunyah sirih yang sekapur, lalu turun ke halaman, diiringkan dayang dan penginang, kipas bersabung kiri kanan.

3) Putih, Bersih

9