Lompat ke isi

Halaman:Magek Manandin.pdf/22

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah
↓Laman ko alah diujibaco

Telah sampai di gelanggang, sirih terletak oleh si Kambang,

berkata Puti Linduang Bulan, “Duhai Tuan Datuak Bandaharo, mari kita naik ke rumah, nasi terhidang sudah dingin, bunga dikarang sudah layu, Tuan yang tidak kunjung datang, benar bagai pantun orang,

Telah lelah denai berbansi
Rabab tersandar di pematang;
Telah lelah denai menanti
Tuan yang tidak kunjung datang.

Sekarang begini sajalah Tuan, tiada guna lama di sini, marilah naik ke atas rumah, orang sudah ramai menanti, beserta dengan imam dan khatib.”

Tidak lama antaranya, berjalanlah Datuak Bandaharo, berdua dengan Puti Linduang Bulan, naik ke atas rumah gadang, lalu didudukkanlah Datuak Bandaharo, dengan Puti Linduang Bulan, di atas kasur kebesaran.

Setelah makan sirih, diambilnya tempat perasapan, dibakar kemeyan putih, asap membubung ke udara, Rajo Kuaso lalu menyembah, kepada basa dan penghulu, serta imam dan khatib, niat dan kaul agar sampai.

“Adik denai Puti Linduang Bulan, berdua dengan Datuak Bandaharo, denai meminta sungguh-sungguh, kepada imam dan khatib, serta penghulu pembesar adat, Angku nikahkanlah sekarang, lalu bacakan doa selamat, agar kekal jodoh mereka, agar tiada aral melintang.”

Oleh Imam dengan Khatib, dibacakan kutbah nikah, ijab jatuh kabul dijawab, telah kawin Datuak Bandaharo, dengan Puti Linduang Bulan, di hadapan saksi yang berempat, lalu dibaca doa selamat.

Tidak lama kemudian, orang banyak meminta pulang, imam

dan katib begitu juga, beserta basa dan penghulu. “Kalau umur

11