Sedang hamil tujuh bulan, berkata Puti Linduang Bulan, “Tuan Kandung Datuak Bandaharo, Tuan ingatlah petaruh denai, kalau anak kita laki-laki, beri nama Magek Manandin, kalau lahir anak perempuan, beri nama Puti Bungsu.”
Menjawab Datuak Bandaharo, “Adik Kandung Puti Linduang Bulan, jangan khawatir tentang itu, tentu denai ingat baik-baik, tidak akan denai lupakan, kalau umur sama panjang, meminta kita pada Allah, agar tiada aral melintang, selamat saja badan Adik.”
Pinta yang memang sedang berlaku, setelah sampai bilangan bulan, tibalah hari ketikanya, petang Ahad malam Senin, sedang larut tengah malam, kira-kira pukul dua belas, sakitlah Puti Linduang Bulan, sakit seperti akan beranak.
Sudah dipanggil malah dukun, dukun tiba bidan pun datang, sudah duduk di tengah rumah. Tidak lama kemudian, lahirlah sudah anak kandung, dilihat anak laki-laki, dukun bersiaplah segera, diselamatkan malah anak kandung.
Sementara Puti Linduang Bulan, telah sadar ia dari sakitnya, hari hampir beranjak siang, dua kali ayam berkokok, murai berkicau hari siang, di hari yang sehari itu, dilihat anak laki-laki, diberilah nama Magek Manandin.
Hari sudah berganti hari, datanglah pula Rajo Kuaso, Allahu Rabbi senangnya hati, melihat adik sudah melahirkan, seorang anak laki-laki.
Lalu berkata Rajo Kuaso, “Adik kandung Linduang Bulan, dengan Datuak Bandaharo, kabar baik denai sampaikan, sudah patut kita pertunangkan, sebab begitu kata denai, anak denai sudah lahir pula, tiga hari umur di dunia, adalah anak perempuan, bernama Subang Bagelang, mandehnya Puti Andam Dewi.
Sekarang begitulah di Adik, si Buyung Magek Manandin, dengan Puti Subang Bagelang, kita pertunangkan kain pendukung,