Sungguh beralih di sana jua, alihnya kepada Rajo Duobaleh, orang ranah kampung Singkarak, itulah raja yang tak adil, beradik seorang perempuan, bernama Puti Nilam Cahayo, dilihat adik sudah besar, sudah patut pula bersuami, dipanggillah para dubalang.
Datang dubalang yang berempat, berkata Rajo Duobaleh, “Duhai manti dan dubalang, pukul malah tabuh larangan.”
Oleh dubalang yang berempat, diambillah rotan pemukul, lalu dipukul tabuh larangan, berkumpul orang besar kecil, dari bukit datang menurun, dari lurah datang mendaki. Berkata manti dan dubalang, “Ampun Tuanku raja kami, kalau dijual kami jauh, Tuanku jua kerugian, kebenaran disembahkan jua, apa sebab tabuh berbunyi, di mana dubalang rebut rampas, di mana penghulu salah hukum.”
Lalu menjawab Rajo Duobaleh, “Wahai manti dan dubalang, sebabnya denai memanggil, bukan dubalang rebut rampas, tidak penghulu salah hukum, hanya sebuah yang teringat, niat dan kaul disampaikan, adik denai sudahlah besar, bernama Puti Nilam Cahayo, sudah patut bersuami, kita pancang malah gelanggang, kita berhelat hanya lagi.”