Lompat ke isi

Halaman:Magek Manandin.pdf/36

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah

Telah bersiap orang nagari, dibuat malah gelanggang, setengah mencari kayu, setengah pergi ke rimba, habis hari berbilang pekan. Telah siap malah gelanggang, berukir bermegamega, ragam sudah ukir tak jadi, kalau jadi banyak maranya.

Orang berhelat hanya lagi, dilepas surat hilir mudik, datang jawara semuanya, membawa ayam seekor seorang. Telah sebulan gelanggang ramai, patah taji bak disukati, tulak bertunda bulu ayam4, darah ayam bagai dibandarkan, bunyi ringgit berlasau-lasau, uang kecil usah dihitung, tiga bulan gelanggang ramai.

Sedang bagi Rajo Duo Baleh, selama gelanggang ramai, sudah banayak sutan yang datang, banyak raja yang tiba, belum bertemu yang cocok, untuk jodoh Puti Nilam Cahayo.

Sementara Rajo Duobaleh, kalau kalah pantang membayar, menang suka menerima, itu kerjanya siang malam, raja yang beraja di hatinya, berkata lalu lalang saja, tidak memandang hina mulia, tidak ditimbang rendah tinggi, ia hanya berbesar diri, anak buah banyak yang takut, orang banyak dianggap budak, yang tua tidak dimuliakan.

Empat bulan gelanggang ramai
Murai berbunyi di atas pintu
Balam tembaga tiga gaya;
Salam takzim badan denai
Kabar beralih tentang itu
Sungguh beralih di sana juga.

Alihnya kepada Magek Manandin, anak Datuak Bandaharo, anak dari Puti Linduang Bulan, kemenakan Rajo Kuaso, tunangan Puti Subang Bagelang, yang terkenal di kampung itu, yang sombong di Sandiangbaka, mamak kaya bapak bertuah.

Kalau dipuji kekayaannya, rumah gadang5 sembilan ruang, tujuh rangkiang6 di halaman, kapuk kecil sela menyela, makanan anak dagang lalu.

4) Banyak ayam yang mati

5) Rumah adat Minangkabau

6) Lumbung Padi


25