Lompat ke isi

Halaman:Magek Manandin.pdf/38

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah

Kerbau banting tiada terhitung, tidak pernah kekurangan, berhati besar tiap hari, badan berdua bersaudara, yang kecil Puti Nan Bungsu, yang besar Magek Manandin, sedang santai duduk di kursi.

Telah tiba surat undangan, telah dibaca surat itu, dari awal sampai akhir, sebaris tidak yang lupa, sudah dipahami isi surat, dipikirpikir dimenungkan, surat undangan untuk ke pesta, ke gelanggang Puti Nilam Cahayo, sudah enam bulan gelanggang ramai, sudah banyak raja yang datang, namun jodoh belumlah dapat, sabung yang ramai tiap hari.

Telah dijelang bapak kandung, berkata Magek Manandin, “Duhai bapak kandung denai, juga mandeh kandung Denai, sebab denai jelang bapak dan mandeh, terniat di dalam hati, denai hendak pergi ke balai, ke gelanggang Puti Nilam Cahayo, bapak lepas dengan hati suci, serta mandeh kandung denai.”

Menjawab Datuak Bandaharo, dengan Puti Linduang Bulan, “Denai lepas dengan hati suci, jika sampai anak ke balai, usah lama anak berjalan, sebagai pula anak kandung, jika anak bermain judi, anak menyabung dan berdadu, usah hati diperturutkan, habis uang berhenti main, jangan sampai membuka kain, usah sampai membuka baju, binasa anak sebab itu, hilang rupa pucatlah roman.

Kalau anak tak berpakaian, orang yang tiada segan lagi, hilang bangsa karena itu, pikirkan benar itu Nak kandung, jangan menyesal kemudian. Rusuhkan budi kalau tergadai, usah paham sampai terjual, sampai ke cucu piut anak, menjadi cacat kemudian.

Sekarang begitulah di anak, berjalanlah anak sekarang juga, bawalah urai lima kaca, serta ayam biring belang, memakai malah anak kandung.”

Dipakainya celana panjang, dipakainya baju beludru, guntingnya gaya Sialahan, bersarung bugis capit udang, berdestar kembang pelangi, tiap sudut pakai hikmah, di tengah sipalat gelo.

27