Lompat ke isi

Halaman:Magek Manandin.pdf/42

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah

Telah berjalan Bujang Salamat, diambil kuda dalam kandang, sudah dipasang pelananya, meringkik kuda yang belang, kaki yang rajah keempatnya, bulu coklat indu basanat.

Berkata si Bujang Salamat, “Tuan Kandung Magek Manandin, naiklah Tuan ke atas kuda.”

Sudah naik Magek Manandin, lalu dipanggil adik kandung, yang bernama Puti Bungsu, “Adik kandung Puti Nan Bungsu, Adik tinggal malah di rumah, kakak berangkat hanya lagi.”

Telah dicium si Puti Bungsu, adik yang masih sangat kecil, air mata berderai-derai, lalu berkata Puti Bungsu, “Kalau boleh pinta denai pada Tuan, usah lama Tuan berjalan, kita berdua bak anak balam, satu jantan satu betina, berpikir malah Tuan tentang itu.”

Sudah berjalan Magek Manandin, dihilirkan jalan yang panjang, jalan panjang berliku-liku, puding emas berbatang-batang, karena lambat laun di jalan, telah tiba malah di sana, yakni di rumah Subang Bagelang, di kampung terjorong mudik.

Lalu berhenti Magek Manandin, telah dipautkan kuda yang belang, naiklah Ia ke atas rumah, dilihat orang tidak nampak, dipanggil si Kambang Manih, terkejut si Kambang Manih, melihat Magek Manandin, gagah yang bukan alang-alang, lalu teringat dalam hati, inilah tunangan aciak denai, “Duhai Tuan kandung sutan yang datang, duduklah Tuan sebentar, denai jemputkan acik denai, sedang tidur di atas anjung.”

Disibak kelambu rumin, tersibak kelambu ketujuhnya, dibangunkan Subang Bagelang.

“Bangunlah Acik dari tidur.”

Terkejut Subang Bagelang, “Adik Kandung si Kambang Manih, apa sebab Denai dibangunkan?”

7) warna coklat selalu

31