Lompat ke isi

Halaman:Magek Manandin.pdf/44

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah

Menjawab si Kambang Manih, “Kalau itu yang Aciak tanyakan, adalah orang baru datang, gagahnya bukan kepalang, kalau tak salah mata denai, dialah tunangan Aciak, yang bernama Magek Manandin.”

Baru mendengar di kata itu, terkejut Subang Bagelang, tersirap darah di dada, badan bak rasa bayang-bayang, sudah duduk Subang Bagelang, dirintang dayang dan penginang, mandi bersiram air bunga.

Telah sudah Ia mandi, dipakaikan pula pakaian, lalu turun ke tengah rumah, terkejut Magek Manandin, dilihat tunangan sudah besar, sudah sama duduk di kursi, si Kambang bersiap hanya lagi, setengah mengambil air, setengah memasak nasi.

Sudah masak nasi dan gulai, digulai merpati mandul, ayam ada rendangpun ada, gulai putih ada pula, sudah dibawa ke tengah rumah, nasi terletak sembah tiba, “Tuan kandung Magek Manandin, Tuan makan malah dahulu, ke mari baru sekali ini.”

Menjawab Magek Manandin, “Adik kandung si Kambang Manih, kalau begitu kata Adik, tentangan minum dengan makan, kalau makan obat lapar, kalau minum obat haus, satu hal yang denai ingat,

Padi si jirak jiru jintan
Padi si pulut tulang ladang;
Nasi disenduk diletakkan
Denai berpantang makan seorang.”

Menjawab si Kambang Manih, sembari berpantun beribarat,

“Padi si jirak jiru jintan
Padi sepulut lindung daun;
Nasi disenduk diletakkan
Dengan siapa Tuan ingin sedaun.”

33