Lompat ke isi

Halaman:Magek Manandin.pdf/46

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah

Sudah lelah debat berdebat, sudah makan Magek Manandin, makan sesuap dua suap, cukup ketiga Ia pun kenyang.

Telah sudah makan dan minum, sudah merokok makan sirih, berkata Magek Manandin, “Adik Kandung Subang Bagelang, sebab denai datang kemari, Denai hendak pergi ke gelanggang, yakni gelanggang Puti Nilam Cahayo, saudara kandung Rajo Duobaleh, di ranah kampung Singkarak, Adik lepas dengan hati suci, minta selamat umur panjang.”

Baru mendengar kata itu, termenung Subang Bagelang, dijawab sambil menangis, “Kalau itu Tuan katakan, kalau ditegah tidak tertegah, denai suruh malah pergi, namun sungguhpun begitu, kalau sampai Tuan ke sana, sampai berjudi dan menyabung, usah lama Tuan di sana, lekas Tuan segera pulang, sebab begitu kata denai, raja itu lain adatnya, kalau bicara di luar benar, mencencang tidak memepat, kalau kalah pantang membayar, ingatlah Tuan tentang itu.

Sebagai pula Tuan kandung, kita tlah lama bertunangan, andaikan boleh pinta denai, eloklah kita sama berjalan, kalau mau Tuan membawa.”

Menjawab magek Manandin, “Adik Kandung Subang Bagelang, kalau itu adik katakan, janganlah Adik sama pergi, sebab begitu kata Denai, bukan Denai karena malu, sebab adat di gelanggang, tidak bercampur perempuan, hanya yang banyak sabung judi, tepuk dan sorak sangat ramai, permainan anak mudamuda, sabarlah Adik tentang itu.”

Menjawab Subang Bagelang,

“Padi si pulut dari jawa
Sampai di rimba ditugakan;
Denai menurut tidak dibawa
Tidakkah iba meninggalkan.

35