BERJUDI MEMBAWA PETAKA
Kabar beralih lah sekarang, sungguh beralih itu jua, alihnya kepada Magek Manandin, karena lama lambat di jalan, jalan panjang yang diturutkan, puding emas berbatang-batang, hampir kan tiba hanya lagi.
Disebutkan tentang lari kuda, bagai tempurung lakak enam, pergi tiga pulang pun tiga, bunyi gentanya bagai ditimbang, yang besar bunyi membangunkan, yang kecil bunyi menidurkan, kadangkadang beriba hati.
Jauh bertambah hampir jua, telah tiba Ia di sana, di gelanggang Puti Nilam Cahayo, turunlah Ia dari atas kuda, setelah kuda dipautkan, haru biru orang yang banyak, melihat Magek Manandin, berkata orang dalam gelanggang.
“Selama hidup di dunia, belum pernah denai melihat, sutan yang segagah ini, laranglah puti kan jodohnya.”
Sedangkan Rajo Duobaleh, mendengar orang baru tiba, lalu berkata Rajo Duobaleh, “Wahai Sutan yang baru datang, kita menyabung agak sejamang, kalau kalah pembuang peluh, kalau menang pembeli sirih.”
43