Lompat ke isi

Halaman:Magek Manandin.pdf/58

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah
Lambung dikecap gundu mati
Koa yang tidak bisa sampai.

Termenung Magek Manandin, lalu digadaikan pula kuda, sekali pun tidak menang, badan semakin miskin jua.

Tiga hari lama di sana, telah habis pakaian semuanya, utang nasi sudah banyak pula, uang tak ada pembayarnya, semua orang sudahlah benci, seorangpun tak ada yang sayang. Hari telah beranjak petang, telah diminta malah nasi, kepada mandeh yang berlepau, orang tak mau menyendukkan, berkata mandeh yang berlepau,

“Duhai Sutan yang baru datang, kalau nasi yang sutan minta, kami tidak bisa memberikan, sebab begitu kata kami,

Cikarau di hulu air
Diambil semua yang muda;
Utang lama belum dibayar
Sekarang akan tiba pula.

Sekarang beginilah di Sutan, kami sudah tidak suka, elok berjalan kini-kini.”

Telah berjalan Magek Manandin, telah sampai di tengah laman, hari yang larut tengah malam, air mata berderai-derai, bunyi tangis berbuah-buah, miskin yang tidak tertanggungkan, sebab karena bermain judi.

Hilir ke jalan Rimbo Panjang
Tengkuluk jangan dibasahi;
Dahulu ditumpang hati riang
Kini badan disesali.
Apa kan tenggang kaki panjang
Pematang tinggi tak terdaki;
Apa kan tenggang anak dagang
Utang tak bisa minta janji.

47