Lompat ke isi

Halaman:Magek Manandin.pdf/68

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah
Disangka Tuan lekas pulang
Dinanti sehari lagi
Semakin jauh malah kiranya.
Ayam kinantan putih sayap
Disabung anak Koto Tua;
Bagai gunung Tuan diharap
Apakah ini balasannya.
Bercincin permata intan
Patah tertimpa atas kaca;
Sedang kasih Tuan berjalan
Berhati sabar malah hamba.
Simpang Tanang tebatnya runtuh
Berdekat dengan jalan ke parit;
Dalam senang menyimpan rusuh
Rumit bertenggang dalam raib”

Hari sudah beranjak siang, sekitar pukul enam pagi, kabar beralih seketika, sungguh beralih di situ jua, alihnya kepada Rajo Kuaso.

Setelah sudah makan dan minum, berjalanlah Rajo Kuaso, dihilirkan jalan yang panjang, setelah lama lambat di jalan, tidaklah kaba dipanjangkan, telah tiba malah di sana, di ranah Sandiangbaka, di rumah Puti Linduang Bulan.

Berkata Rajo Kuaso, “Adik kandung si Linduang Bulan, dengan Datuak Bandaharo, beri lurus denai bertanya, si buyung dimana kini, yang bernama Magek Manandin?”

Menjawab Puti Linduang Bulan, “Kalau itu yang Tuan tanyakan, itulah yang sedang kami rusuhkan, siang dan malam berhati mabuk, si buyung Magek Manandin, dia pergi ke gelanggang, ke gelanggang Puti Nilam Cahayo, pesan tidak berita pun tidak, entah bagaimana lah sekarang, remuk rasa perhatian.”

57