Lompat ke isi

Halaman:Magek Manandin.pdf/70

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah

Sementara Rajo Kuaso, baru mendengar kata itu, telah berjalan Rajo Kuaso, telah serentang perjalanan, karena lama lambat di jalan, hampir kan tiba hanya lagi, telah tiba malah di sana, di kampung Rajo Duobaleh, berjalan-jalan masuk kampung, maksud sengaja dalam hati, mencari sapi untuk pembajak, orang lah hampir turun ke sawah.

Berjalan jua hilir mudik, sapi dicari tidak dapat, lalu bertemu Rajo Duobaleh, bertemu di simpang jalan, berkata Rajo Duobaleh, “Oi Tuan Rajo Kuaso, kemana Tuan akan berjalan, apa maksud Tuan cari?”

Menjawab Rajo Kuaso, “Sebab denai datang ke mari, mencari sapi untuk pembajak, kalau ada orang yang menjual.”

Berkata Rajo Duobaleh, “Kalau itu maksud Tuan, denai punya seekor sapi, sedang diikat malah kini, kalau Tuan suka membeli, murah benar harganya, lihat di Tuan sapi itu, diikat di pondok jaga.”

Telah berjalan Rajo Duobaleh, mengikuti Rajo Kuaso, pergi melihat sapi itu, telah tiba di pondok jaga, berkata Rajo Duobaleh, “Oi Tuan Rajo Kuaso, inilah sapi kata denai” ditunjukkan Magek Manandin, “Tuan bawalah orang ini, sebab dia mencuri sapi.”

Sedang di Rajo Kuaso, dilihat benar dekat-dekat, teranglah itu Magek Manandin, kiranya kemenakan kandung, berkain berbaju tidak, yang tinggal celana dalam buruk. Tersiraplah darah di dada, malu yang tidak tertanggungkan, diri disebut orang kaya, budak banyak setengah koto, kemenakan mencuri sapi, kemana muka kan disembunyikan, sedang oleh Rajo Kuaso, dibawalah Magek Manandin, diseret dengan tali besar, hari yang sedang tengah hari, sedang nya bulat bayang-bayang, dibawa jua berjalan.

Telah serentang perjalanan, di mana penat Ia berhenti, menangis Magek Manandin, air mata berderai-derai, berkata Magek Manandin, “Oi mamak Rajo Kuaso, tolong berilah denai ampun,

59