Lompat ke isi

Halaman:Magek Manandin.pdf/72

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah

sakit yang tidak tertanggungkan, begini rupa panas hari, mamak seret di tengah jalan, perut denai sangat lapar, haus yang tidak tertanggungkan.”

Mendengar kata Magek Manandin, berhenti Rajo Kuaso, lalu berkata Rajo itu, “Oi Buyung Magek Manandin, sungguhpun perut terasa lapar, kalau haus tak dapat minum, tahan dek buyung sepak dan terjang.”

Diambil batu di tengah jalan, lalu dilempar Magek Manandin, menangis Magek Manandin, “Oi mamak kandung denai, usahlah nasi akan dapat, sepak dan terjang yang ditanggung, mamak lempar pula dengan batu.

Berkata Rajo Kuaso, “Oi Buyung Magek Manandin, kalau buyung merasa sakit, lalu mengapa mencuri sapi, sejak dahulu denai katakan, elok buyung pergi mengaji, menyabung jua yang buyung sukai, bermain dadu tiap hari, maka ini lah balasannya.

Sekarang beginilah saja, daripada hidup eloklah mati, memberi malu dalam kampung, tidak didengar tidak bertanya, di dalam kampung Sandiangbaka, denai yang menjadi raja, budak banyak setengah kota, kerbau banting ayam dan padi, tidak yang kurang satupun jua, sampai buyung sebesar ini, kinilah baru dapat malu.”

Menjawab Magek Manandin, “Kalau begitu kata mamak, kalau tak boleh minta ampun, berilah Denai air.”

Namun bagi Magek Manandin, usahkan air akan dapat, malah dipukul sekali lagi, berteriaklah Magek Manandin, “Kalau begitu kata mamak, bunuhlah saja badan denai, agar senang hati mamak, carilah pedang yang tajam, agar tentu denai tanggungkan.

Biduk gajah pencalang banyak
Usah dikali anak Cina;
Biduk pecah pelangpun rusak
Kapal ditumpang karam pula.

61