- Lurus jalan ke Batusangkar
- Berbelok jalan ke Rambatan
- Di simpang jalan ke gedung;
- Tiada guna denai menyesal
- Tiga hari sudah tiada makan
- Hantam dan terjang yang ditanggung.
- Ditiup api dipuntung
- Sekerat untuk kayu baja;
- Sejak kecil dimabuk untung
- Besar ditimpa sengsara.
Sementara Rajo Kuaso, sebuah tidak didengarkan, lalu diseret Magek Manandin, tercecerlah darah di batu.
Karena lama lambat di jalan, telah tiba di Sandiangbaka, tiba di rumah bundo kanduang, terkejut Puti Linduang Bulan, dengan Datuak Bandaharo, dilihat orang yang diseret, dipandang benar nyata-nyata, teranglah itu Magek Manandin.
Menjerit Puti Linduang Bulan, dengan Datuak Bandaharo, terkejut pula Puti Nan Bungsu, turunlah ke tengah halaman, berkata Puti Linduang Bulan, “Oi Tuan kandung Rajo Kuaso, apa benarkah kesalahannya, sebab si Magek Tuan bunuh, jika sebab emas dan perak, denai yang ada banyak menyimpan, Tuan Kandung berpikirlah, anak denai diseret saja, tidakkah Tuan merasa iba.”
Menangis Puti Nan Bungsu, buah pantun beriba-iba, “Tuan Kandung Magek Manandin,
- Besar korok pasar dahulu
- Nampak dari Aia Bangih;
- Besar harap hamba dahulu
- Kini menjadi buah tangis.
- Tuan Kandung Magek Manandin, berapa banyak utang Tuan,
tentulah denai melunasi, Oi mamak denai Rajo Kuaso, tidakkah mamak menaruh santun.”
63