Lompat ke isi

Halaman:Magek Manandin.pdf/76

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah

Mendengar kata demikian, termenung Rajo Kuaso, tidaklah kabar dipanjangkan, berkata Rajo Kuaso, “Adik kandung si Linduang Bulan, dengan Datuak Bandaharo, serta dengan Puti Nan Bungsu, kalau utang yang ditanyakan, utang yang tidak bisa dibayar, bukan utang emas dan perak, anak ini mencuri sapi, malu terjujung di kepala, sangat pantas dihukum pancung, kalau besar banyak sengsaranya, elok dibunuh kini kini.”

Sedang oleh Rajo Kuaso, diambil malah pedang, dipancung Magek Manandin, Allah Taala sungguh kaya, tidak bisa besi memakan, tidak luka yang dipancung.

Diambil pula malah rencong, ditikam Magek Manandin, sedang bertolong pada Allah, rencong bergulung ke pangkalnya, menangis orang dalam kampung, melihat Magek kena pancung, bapak dan mandehnya sudah pingsan, menangis pula Puti Nan Bungsu, berkata Magek Manandin,

“Oi Mamak Rajo Kuaso, tidakkah mamak menaruh iba, senangkan lah hati mamak, carikan tombak untuk membunuh, kalau tak dapat tombak panjang, carikan kayu dalam rimba, suruh malah anak buah, mencari kayu banyak-banyak, jadikan api kayu itu, masukkan denai ke dalamnya, agar senang hati mamak yang tinggal.

Oleh Rajo Kuaso, dipukul tabuh larangan, berkumpul orang dalam kampung, diperintahkan pada anak buah, mencari kayu dalam rimba.

Lama sebentar antaranya, telah tiba kayu di laman, lalu dibakar kayu itu, dimasukkan Magek Manandin, ke dalam api sangat nyala, tidak bisa api memakan.

Hilanglah akal Rajo Kuaso, dengan apa Magek akan dibunuh, lalu dicari malah tali, diikat Magek Manandin, diperintahkan di anak buah, “Tolong buang anak ini, bersama-sama kita membunuh, usah menyusahkan kemudian.

65