- Ramilah balai Tujuh Kota
- Perintah ]lareh Pariaman;
- Berjalan bujang yang celaka
- Tinggal jejak sapu halaman.
- Rami pekannya Kurai Taji
- Nampak dari ujung Tanjung;
- Berjalan bujang dari nagari
- Meminta doa dari orang kampung.
- Kamis balainya Lubuk Basung
- Selasa di Pauh Kembar
- Senin pasar orang Tiku
- Hari ahad ke Sungai Limau;
- Marah rupanya mamak kandung
- Hendak membunuh badan denai
- Malang si Upik Puti Bungsu
- Kemanakah denai kan menghimbau.”
Setelah ia berpantun, berkata Rajo Kuaso, “Wahai dubalang yang berempat, serta orang dalam kampung, kita bersigap lah segera, kita seret Magek Manandin, dicampakkan ke lurah dalam, kalau besar menyusah jua.”
Orang bersigaplah segera, diambil tali sehelai sorang, lalu diseret Magek Manandin, menangis Datuak Bandaharo, dengan Puti Linduang Bulan, bertiga dengan Puti Nan Bungsu, melihat anak telah diseret, bunyi tangis berbuah-buah, “Anak kandung Magek Manandin, tidak dapat kami menolong.”
Bandunglah ratap di tengah rumah, menangis pula Puti Bungsu, “Tuan kandung Magek Manandin, kita berdua bersaudara, tidak yang lain diharapkan, kemana denai akan mengadu, jika tidak saudara kandung, akan sansai malah badan denai, inilah rupa penanggungan, benar bagai pantun orang,
- Kampung Jambak menyisir rimba
- Di balik kampung Mandahiling;
69