Lompat ke isi

Halaman:Magek Manandin.pdf/82

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah

Sedangkan mamak sudah tak iba
Apalagi orang sekeliling.”

Tidaklah kabar dipanjangkan, menangis Magek Manandin, orang banyak menyeret jua, tercecer darah di batu, berkata Magek Manandin, “Oi mamak Rajo Kuaso, haus yang tidak tertanggungkan, rasa kan putus nyawa di badan, berilah jua denai air.”

Menjawab Rajo Kuaso, “Oi buyung Magek Manandin, haus dan lapar yang teringat, malah tahu di rasa lapar, mengapa buyung mencuri sapi.”

Usahkan air akan dapat, jangankan nasi akan beroleh, diambil tongkat dilecutkan, dilecutlah pula Magek Manandin.

“Oi Buyung Magek Manandin, inilah pengganti air, pengobat lapar dan dahaga, sejak dahulu denai katakan, tidak mau masuk sekolah, kata orang tua tidak didengar, berjudi yang buyung sukakan, siang dan malam bermain dadu, bangsa mulia jadi hina, sejak semula denai katakan, tidak diletak dalam hati, buyung jua menanggungkan.”

Menangis Magek Manandin, badan bertambah letih jua, berkata Magek Manandin, “Oi Mamak Rajo Kuaso, mamak sampaikan malah membunuh, agar senang hati Mamak tinggal, tetapi sungguhpun begitu, kalau jadi denai mati, pegang petaruh baikbaik, kalau dapat mamak mencarinya, calon suami Subang Bagelang, hendaknya yang sama muda, usah mengharap kaya orang, jangan mengharap di bangsa tinggi, pandang anak pandang menantu, hendaknya yang jolong sama jolong.

Sebab denai mendapat kabar, mamak akan menjemput Rajo Duobaleh, sebab dia orang yang kaya, raja pula di nagarinya.

Tapi sungguhpun begitu, menurut denai sungguh salah, harap di kaya orang saja, tidak dilihat roman anak, bagai bunyi pantun orang,

71