Lompat ke isi

Halaman:Magek Manandin.pdf/86

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah

sungguhpun air yang diminta, jangankan air akan dapat, sepak dan terjang malah yang tiba, eloklah haus ditahankan.

Berkata Rajo Kuaso, “Wahai semua orang yang banyak, kita buang Magek Manandin, biarlah lapuk dalam lurah, usah menyusahkan di nagari.”

Lalu diseret Magek Manandin, dilemparkan ke dalam lurah, telah sampai malah di lurah, badan lemah semakin letih, rasa kan putus nyawa di badan, Allah sajalah yang tahu, tidak ajal berpantang mati.

Kabar beralih kemudian, sungguh beralih di situ jua, yakni kepada Rajo Kuaso, serta dubalang yang berempat, berkata Rajo Kuaso, kepada dubalang yang berempat, serta semua orang nagari,

“Senanglah sudah hati kita, kalau makan rasa kan kenyang, senanglah hati orang kampung, telah hilang Magek Manandin, tidak akan menyusah lagi, kita berbalik malah pulang, hari semakin petang jua.”

Berbaliklah pulang Rajo Kuaso, serta dubalang yang berempat, diiringkan orang nagari, karena lama lambat di jalan, sampailah di Sandiangbaka, di halaman Puti Linduang Bulan, berkata Rajo Kuaso, “Adik kandung Puti Linduang Bulan, si buyung Magek Manandin, sudah diam di lurah dalam, entah hidup entahlah mati, senanglah hati kita yang tinggal.

Sedangkan Puti Linduang Bulan, baru mendengar kata itu, menangis Puti Linduang Bulan, air mata berderai-derai, bagai manik putus talinya, mengenang untung anak kandung, hilang siapa akan mencari, luluh siapa kan menyilami, berbuah-buah bunyi ratap, tidur bergelung dalam kelambu.

Sakit surang demam berempat, tiga hari lama menangis,makan tidak minumpun tidak, kuruslah badan Puti Linduang Bulan, sansailah sudah si Puti Bungsu, menangis Datuak Bandaharo, teringat pada anak kandung.

75