Lompat ke isi

Halaman:Magek Manandin.pdf/88

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah

Kabar beralih kemudian, sungguh beralih di situ jua, alihnya kepada Rajo Kuaso, berjalanlah Rajo Kuaso, karena lambat lama di jalan, sampailah di rumahnya, naiklah beliau ke atas rumah, berkata Rajo Kuaso,

“Anak kandung Puti Subang Bagelang, dengar di anak bapak katakan, tentang si buyung Magek Manandin, telah dibuang ke lurah yang dalam, senanglah hati denai kini, usahlah anak berusuh hati, kita cari akan gantinya, pengganti Magek Manandin, orang yang raja di nagari, yang tahu di perut lapar, kita akan segera berhelat, kita pancang malah gelanggang.”

Baru mendengar kata itu, menangis Subang Bagelang, air mata berderai-derai, lalu berkata Subang Bagelang, “Daulat bapak kandung denai, beri lurus denai bertanya, Tuan kandung Magek Manandin, apa sebab bapak buang, ceritakanlah pada denai, andai mati Tuan kandung, akan sansailah badan denai.”

Menjawab Rajo Kuaso, “Anak kandung Subang Bagelang, kalau itu anak tanyakan, kesalahan Magek Manandin, salah tak bisa dimaafkan, sebab karena menyabung jua, sampai kalah Ia berjudi, sampai tercemar mencuri sapi, bangsa yang mulia jadi hina.”

Baru mendengar kata itu, menangislah Subang Bagelang, sebuah tidak Ia menjawab, tidur saja ke atas anjung, sampai basah bantal sebuah, tidur bergelung dalam kelambu, makan tidak minum pun tidak, badan kurus bagai pimping, habis hari berbilang pekan, bunyi pantun berbuah-buah,

Anak rang kampung berumah sudah
Berukir jenjang dan tangganya;
Janji erat terikat sudah
Akan ungkai malah kiranya.

Perahu si Marah Gelang
Patah dititi kambing hutan;

77