Lompat ke isi

Halaman:Magek Manandin.pdf/96

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah

SI BURUNG NURI


Kabar beralih kemudian, sungguh beralih di situ jua, alih kepada Puti Taruih Mato, anak Subarang Ayia Gilo, adik dari Rajo Sunsang Baraik, kemenakan Sambah di Lawitan.

Kononlah Puti Taruih Mato, sedang duduk di atas anjung, lalu diambil Burung Nuri, berkata Puti Taruih Mato, “Adik kandung si Burung Nuri, berjalan malah adik kini, pergi melihat dusun orang, agar terobat hati rusuh, badan denai tidak menentu, hati yang gelisah tak menentu, bermimpi denai tiap malam, mimpi sudah denai tergamang, hati iba bercampur rusuh, berjalanlah Adik kini-kini.”

Terbanglah si Burung Nuri, terbang menyisir-nyisir awan, puas melayang Ia menukik, banyaklah kampung dilalui, benyaklah rimba yang dilihat, tiga hari lamanya terbang, menukik Ia ke lurah dalam, berjalan hilir dengan mudik, Allah Taala menggerakkan, tampaklah orang sedang diikat, bersandar di batang kayu, berkata si Burung Nuri, “Oi Tuan orang yang terikat, apakah sebab karenanya, hingga menanggung perasaan?”

Terkejutlah Magek Manandin, dilihat hilir dan mudik, tidak nampak orang di sana, dipandang nyata-nyata, lalu nampaklah burung Nuri, berkata Magek Manandin, “Adik kandung si Burung Nuri, inilah

85