Lompat ke isi

Halaman:Magek Manandin.pdf/98

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah


rupa perasaan, tolonglah badan diri denai, tolonglah buka ikatan ini.”

Menjawab si Burung Nuri, “Kalau begitu kata Tuan, denai yang senang menolong, tapi denai tidak bertangan, namun tali bisa dipatuk, agar lepas ikatan itu.”

Diangsur jua malah mamatuk tali, habis hari berganti hari, tiga hari lama di sana, telah putus ikatan itu, sedang si Burung Nuri, dilihat Magek Manandin, gagah yang bukan kepalang, laranglah puti kan jodohnya, mungkinkah Puti Taruih Mato.

Berkata Burung Nuri, “Tuan kandung dengarkan malah, jawab jujur denai bertanya, di manakah kampung Tuan, ceritakan jua kepada denai.”

Menjawab Magek Manandin “Kalau itu yang burung tanyakan, denai bernama Magek Manandi, dusun nagari Adik tanyakan, kampung denai di Sandiangbaka, bapak denai Datuak Bandaharo.

Tatkala badan akan terbuang, karena sabung main judi, habis pakaian seluruhnya, disangka akan bisa menang, kiranya kalah yang tersua, celaka datang kemudian, mamak kandung yang membuangkan, bergelar Rajo Kuaso, salah tak dapat meminta ampun.”

Mendengar kisah perasaan, menangis si Burung Nuri, lalu berkata burung itu, “Tuan kandung Magek Manandin, Tuan tinggal malah di sini, kalau umur sama panjang, terjejak jua tanah tepi.

Terbanglah si Burung Nuri, tinggal malah Magek Manandin, telah sampai di atas lurah, lalu hinggap di pohon besar, dilihat hilir dan mudik, tampaklah orang merambah ladang.

Berkata si Burung Nuri, “Oi Angku orang berladang, tanda orang memancang rimba, layangkan malah nasi kunyit, agar selamat buah padi, begitu petuah orang tua-tua.”

87