malakak kuciang di dapua, manahan jarek di pintu, mancari dama ka bawah rumah, papek di lua runciang di dalam, tunjuak luruih kalingkiang bakaik. Pilin kacang nak mamanjek, pilin jariang nak baisi, mamapeh dalam balango, panipu koroang jo kampuang, pangicuah anak kamanakan, panjua urang di nagari, tidak mamakai malu jo sopan.
3. Bersifat Cerdik
Seorang bundo kanduang (wanita) di dalam adat haruslah mempunyai sifat cerdik, tahu, dan pandai. Cerdik artinya mengetahui mudharat jo mufaat, mangana labo jo rugi, mangatahui sumbang jo salah, tahu di unak ka manyangkuik, tahu di rantiang ka mancucuak, ingek di dahan ka maimpok, tahu di angin nan baseruik, arih di ombak nan basabuang, tahu di alamat kato sampai. Tahu artinya berilmu pengetahuan dalam rumah tangga dan lingkungan, berpengetahuan tentang pendidikan serta ahli dalam bidang kewanitaan sesuai dengan mungkin dan patuiek, berpengetahuan dalam bidang pekerjaan wanita sehari-hari, baik di atas rumah tangga, maupun di dalam koroang kampuang dan nagari-nya, sebagai ibu, sebagai limpapeh. Berpengetahuan dalam bidang adat dan agama serta negaranya. Pandai artinya selalu meletakkan segala suatu pada tempatnya, di dalam mungkin jo patuiek, pandai bergaul, hormat kepada orang tua-tua, lebih-lebih terhadap dua orang ibu bapa dan suaminya. Kasih kepada fakir dan miskin, serta anak-anak dengan mencerminkan sifat-sifat seorang ibu di dalam rumah tangga. Di mana sifat cadiak, tahu, dan pandai ini tidaklah mungkin dimiliki oleh seorang wanita kalau tidak berpendidikan dan berpengetahuan.
4. Pandai Berbicara
Seorang wanita (bundo kanduang) menurut adat harus pandai berbicara, yakni fasih lidah di dalam berkata-kata, karena dia adalah seorang yang berfungsi pendidik di dalam rumah tangga dan keluarga serta kaumnya. Pandai dan fasih lidah dalam berkata-kata merupakan suatu alat yang ampuh dalam memberikan arah dan bimbingan terhadap
78