Bismillahirrakhmanirrahim
PRAKATA
Bakarieh si kati muno,
patah lai basimpai alun,
ratak sabuah jadi tuah,
kalau dibukak pusako lamo,
dibangkiek tareh nan tarandam,
lah banyak ragi nan barubah.
Bulek ruponyo daun nipah,
buleknyo nyato bapasagi,
diliek lipek tak barubah,
lah dibukak tambuak tiok ragi.
Kepemimpinan ninik-mamak di nagari-nagari di Sumatra Barat sangat penting artinya dalam mensukseskan pembangunan dalam segala bidang, terutama dalam lingkungan anak-kemenakan dan koroang kampung. Hal ini pun telah dilaksanakan secara baik dengan hasil yang positif semenjak dahulu sampai sekarang.
Tapi sangat disayangkan, kepemimpinan yang baik ini telah dirusak oleh penjajahan di zaman yang lampau, sehingga tidak kurang pula menimbulkan efek-efek negatif karena penyalahgunaan dari kepemimpinannya itu, yang akhirnya mengakibatkan semakin berkurangnya kewibawaan ninik-mamak di sebagian besar nagari di Sumatra Barat.
Tidak ada jalan lain untuk mengembalikan kewibawaan seorang penghulu di tengah-tengah masyarakat anak-kemenekannya, ialah kembali melaksanakan tugas kepenghuluannya sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang telah digariskan oleh adat Minangkabau di samping melengkapi dirinya dengan pengetahuan dalam segala bidang.
Didorong oleh hal yang demikian, sesuai dengan maksud pepatah dan bidal yang disebutkan di atas, kami telah berusaha menyusun buku pegangan bagi penghulu di Minangkabau ini.
Semoga dengan ini, kita ninik-mamak di Sumatra Barat, dengan mengamalkannya secara benar dan konsekuen akan dapat menjalankan tugas menurut semestinya dan kembali secara berangsur-angsur
1