Lompat ke isi

Halaman:Pegangan Penghulu, Bundo Kanduang, dan Pidato Alua Pasambahan Adat di Minangkabau.pdf/87

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah

Bismillahirrahmanirrahim

PRAKATA

Kalau ditilik kejadian permulaannya kaum wanita menurut ajaran agama Islam, sesungguhnya wanita itu kaum lemah kalau dibandingkan dengan kaum laki-laki, maka selalu wanita itu memerlukan lindungan dari kaum laki-laki.

Tetapi Tuhan yang Mahaadil telah menetapkan bahwa wanita dengan kodrat hayatinya menempati kedudukan yang terpenting dalam menegakkan hidup dan kehidupan, serta dalam penyusunan masyarakat bangsa. Sekalipun disebut kaum lemah, namun peranannya tidak dapat diabaikan dalam penyusunan bangsa dan dalam membina dan membangun negara bersama kaum laki-laki, menuju alam baqa dengan menempuh jalan duniawi yang diridhai oleh Yang Mahakuasa.

Betapa pentingnya peranan wanita di dalam penyusunan keluarga yang baik yang merupakan unit terendah dari suatu masyarakat yang lebih besar, dalam mewujudkan suatu bangsa yang sejahtera dan bahagia. Dalam suatu hadits Nabi Muhammad saw., bersabda: Wanita adalah tiang rumah tangga; kalau baik wanita, baik rumah tangga; dan kalau rusak wanita, rusak rumah tangga. Wanita adalah tiang negara; kalau baik wanita, baik negara; kalau rusak wanita, rusak negara.

Sangat banyak jumlah wanita yang menjadi pahlawan dalam mencapai cita-cita bangsa di dunia dalam menegakkan keadilan dan kebenaran, serta membela kemuliaan kaum wanita di samping kaum laki-laki. Antara lain R.A. Kartini Rohana Kudus, Siti Nang Gopoh, dan lain-lain, dan di dalam agama Islam terkenal antara lain Maryam, Zalekka, Asiah, Balqis, Ummi Musa, A'isyah r.a., Siti Khadijah r.a., dan lain-lain.

Wanita juga pernah mengalami zaman gelapnya untuk kesekian kali dalam sejarah dunia. Kodrat lemahnya telah menyebabkan mereka menjadi sasaran untuk menerima nasib tamparan hinaan dari golongan-golongan kaum kuat, yang tidak beradab serta tidak mengindahkan panggilan denyutan jantung kemanusiaan dan keadilan. Kita telah biasa mendengar ulangan sejarah kegelapan masa kedudukan wanita di zaman jahilijah, bahwa kelahiran Nabi Muhammad saw.-lah yang memancarkan cahaya cerah jernih, yang kemudian memenangkan perjuangan wanita dan sekaligus mengembalikan serta mengangkat wanita kepada kedudukan yang sewajarnya.

65