Peraturan mengenai keamanan dan lain-lain yang menyangkut cara pelaksanaan tiap-tiap peratuan pokok di dalam adat itu.
Balimbago: Limbago adalah suatu gambaran yang tergores di dalam hati, tetapi yang didapat oleh akal dan ilmu manusia. Kalau sesuatu tidak dapat dicapai oleh ilmu dan akal, maka itu tidak disebut limbago di dalam adat, tetapi disebut angan-angan.
Yang disebut dengan limbago adat, ialah mungkin dan patut. Suatu pekerjaan yang terjadi dalam masyarakat hendaklah di makan oleh mungkin dan patut. Kalau tidak dimakan oleh mungkin dan patut, seumpama sesuatu yang mungkin saja dikerjakan tetapi tidak patut, atau patut saja dikerjakan, tetapi tidak mungkin. Maka yang demikian tidak dinamakan menurut limbago adat. Bacupak: Cupak adalah suatu ukuran di Minangkabau yang dipergunakan untuk penakari atau u- kuran dalam sukatan beras, yang sifatnya tidak boleh dilebihi dan dikurangi. Kalau bercupak dalam sesuatu yang patut dicupak berlebih- berkurang pelaksanaannya maka akan membawa suatu akibat yang tidak baik. Umpamanya dalam berjual-beli dan sebagainya. Di dalam ajaran agama Islam pun dilarang keras melebihi dalam melakukan cupak dan gantang atau menimbang. Seperti kata syarak: Wala tankisul mizana walmikala illa bilqisthi. Janganlah kamu melebihi dan mengu- rangi dalam bercupak dan bergantang.
Di dalam adat Minangkabau cupak ini dipergunakan untuk ukur- an dalam penyelesaian suatu perkara yang timbul dalam masyarakat. Yang menyangkut dengan hukum-menghukum dalam suatu perkara. akan kita terangkan dalam pasal-pasal berikutnya, yaitu dalam pasal cupak usali dan buatan. Bagantang: Adalah suatu ukuran dalam menyukat makanan juga, tetapi di dalam adat dipergunakan untuk mengukur kehidupan manusia dalanı melaksanakan kepercayaannya kepada Tuhan yang disebut dalam akidah yang 50 (silat yang wajit pada Allah dan sifat yang mustahil, bagitupun pada nabi dan rasul serta sifat yang harus padanya).
Kesimpulan:
Jalan dunia ialah peraturan-peraturan yang tidak dapat mesti ditempuh seumpama jalan dalam kehidupan manusia di Minangkabau Maka seorang penghulu musti meletakkan atau menempuh jalan yang empat macam ini sebagai pemimpin dalam masyarakat kaumnya, la bertugas
untuk melaksanakan peraturan adat nan kawi, mesti memakai tumbage
87