Lompat ke isi

Halaman:Pokok-Pokok Pengetahuan Adat Alam Minangkabau.pdf/107

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah

di dalam adat memakai syarat yang telah diatur begitu rupa oleh nenek-moyang kita, yang gunanya agar tempat anak-kemenakan mencari penghidupan di bidang sawah dan ladang jangan berkurang. apalagi pusaka ini dibuat oleh nenek moyang dahulunya. Pepatah mengatakan:

Kok tasasak ikan ka ampang, tasasak kijangka rimbo,
Indak dapek batenggaug lai, tak kayu janjang dikapiang.
Tak bareh alah dikisiak, kok tak ameh bungka diasah,
Takaia talang dipancuang, gunao harato pendindiang malu.

Maka dibolehkan menggadaikan harta pusaka di dalam adat, tetapi setelah ditemui syarat-syarat yang empat macam:

1. Adat tak berdiri,
2. Rando gadang tak balaki (bersuami),
3. Rumah gadang katirisan, dan
4. Maiek tabujua tangah rumah.

Syarat-syarat yang empat macam ini kalau diteliti dengan sesungguhnya sangat jarang sekali ditemui karena yang empat itu juga diatur oleh adat Minangkabau.

Kesimpulan:

Menjual harta pusaka di Minangkabau tidaklah dibenarkan oleh hukum adat karena akan membawa akibat yang tidak sedikit di dalam kehidupan, pergaulan, ekonomi, dan mempengaruhi kondisi masyarakat itu sendiri. Menggadaikan seperti itu haruslah berdasarkan kepada kala mufakat dengan anak-kemenakan yang bersangkutan, dengan syarat gadai itu hanya untuk jangka waktu dua tahun, dengan nengikuti prosedur tentang gadai yang telah diatur oleh adat yang akan kita terangkan dalam pasal-pasal berikutnya.

Akal

Yang dikatakan akal adalah sesuatu yang dilimpahkan Tuhan dalam ali manusia yang mempunyai singanga sinyal sampai ka utakbanak, baginya yang membezokan mudah dan basikek.