dalam nagari-nagari (Kerapatan Adat Nagari). Setelah melengkapi sya- rat rukun menurut adat, maka gelar ini diresmikan menurut adat, dengan arti gadang yang kedua menyusu kepada gadang yang per- tama.
Mambuek kato nan baru. Artinya membuat gelar baru, umpamanya ada kemenakan datang dari daerah lain telah mempunyai keturunan yang banyak dengan persetujuan dari penghulu tempat dia menetap- kan. Maka kemenakan yang datang menurut adat ini ingin mendiri- kan gelar. Gelar ini diminta kepada mamaknya tempat menetap. Dan terkadang diberi gelar oleh ninik-mamak dalam pesukuan. Hal ini juga tidak terlepas dari kata mufakat, dengan ketentuan adat diisi, lembago dituang, tanduak ditanam, darah kacau, dagiang dilapah.
Kesimpulan: Membangun gelar soko di Minangkabau mempunyai peraturan khusus, yaitu:
Adat diisi limbago dituang, Tanduak ditanam, darah dikacau, Dagiang dilapah.
Nak gadang di alam, manjadi rajo Maisi ka alam, nak gadang di nagari, Atau jadi penghulu, maisi ka nagari.
Gadang manyusu dan mambuek kato nan baru dengan ketentuan menurut pepatah adat:
Hinggok mancakam batang, tabang manumpu dahan, Nak batuah di nagari, maisi ka nagari.
Dan sifat mambangun soko (gelar pusaka) yang lima macam yang telah kita sebutkan, kelima-limanya telah terpakai sekarang dalam Kelarasan Koto Piliang dan Bodi Caniago. Dan ada di suatu nagari (Koto Pillang), yang dipakai hanya bapuntiang di tanah tasirah/gadang di pakuburan.
Adat diisi limbago dituang. Dibiasakan dalam mengangkat penghulu dengan memotong kerbau, dan diadakan kenduri besar-besaran. Hal
ini tidaklah diatur oleh pokok-pokok aturan adat, hanya bergantung
121