Hibbah bakeh: Adalah pemberian dari seorang bapak kepada anak juga, tetapi dengan persetujuan kemenakan. Sawah atau tanah ini dihibbahkan selama umur anak. Kalau umpamanya anak dua orang atau tiga orang, maka hibbah berlaku selama umur anak yang tiga ini. Kalau anak telah meninggal maka harta ini dengan sendirinya kembali kepada kemenakan tanpa ada syarat. Disebut dalam adat: Kalau mati kubangan tinggi, karieh pulang ka ruangnyo, ameh pulang katambangnyo, pusako pulang ka nan punyo, yaitu kemanakan yang bertali darah.
Batali bairik batampuak bajinjiang,
Tali kok putuih tampuak kok sakah,
Ameh pulang ka tambangnyo, baju tasaruang ka nan punyo,
harato pulangka nan punyo.
Hibbah yang tiga macam ini biasa terjadi di Minangkabau dan
dibolehkan oleh adat, tetapi dengan syarat hendaklah dengan memalui persetujuan bersama (kata mufakat). Kalau tidak diperbolehkan kata mufakat, maka hibbah bagaimanapun bentuknya tidak dapat dilaksanakan menurut adat.
Cancang Latieh:
Ialah sawah ladang yang dikerjakan oleh orang tua-tua kita dangan jalan manaruko mancancang malatieh hutan belukar. Maka tanah yang telah jadi sawah dan ladang ini disebut pusaka tinggi. Ke dalam cancang latieh ini termasuk juga:
a. Tambang, seperti manambang emas, perak, timbago, dan lain-lain,
b. Teruko, seperti manaruko bukit, lereng gunung, untuk dijadikan sawah atau ladang.
Manah:
Adalah harta pusaka, telah diterima dari nenek moyang yang sifatnya disebut hak kulah, yaitu kepunyaan kaum suatu wilayat dalam koroang kampuang, yaitu:
1. Pandam pakuburan,
2. Labuah tapian,
3. Korong jo kampuang,
127