Lompat ke isi

Halaman:Pokok-Pokok Pengetahuan Adat Alam Minangkabau.pdf/155

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah

4. Rumah jo tanggo,
5. Sasok jurami,

dan yang demikian itu disebut juga dalam adat pusaka tinggi.

Pusaka rendah: ialah hak milik yang didapat oleh seseornag bukan dengan mempusakai harta tinggi, tetapi adalah harta yang didapat lantaran dibeli, dipegang, hibbah, dan sebagainya.

Pusaka tinggi (Manah) disebut dalam pepatah:
Jua nan tidak dimakan bali,
Sando nan tidak dimakan gadai.

Artinya pusaka tinggi ini tidak boleh dijual-belikan, biarkanlah dia berlaku demikian turun-temurun dalam pasukuan dan koroang kampuang yang bersangkutan.

Kaluak paku kacang balimbing,
Anak dipangku kamanakan dibimbiang.

Anak dipangku dan dibiayai dengan harta pencaharian, dan
kemenakan bimbing dengan harta pusaka tinggi. Ada kejadian
kemenakan yang merebut harta pencarian mamak yang telah
diberikannya kepada anaknya. Ini bertentangan dengan agama Islam dan adat. Begitu juga harta yang telah dihibbahkan oleh mamak kepada anaknya, janganlah direbut sebelum sampai waktu yang telah ditentukan menurut yang diperbuat dahulunya oleh mamak dengan ahli waris, kecuali kalau telah sampai janji yang ditentukan. Dan tidaklah dibenarkan mengambil atau menerima harta yang telah diberikan untuk jangka waktu yang telah ditentukan sebelum waktunya.

Pagang Gadai
Di dalam adat Minangkabau semenjak dahulu dibolehkan melakukan
pagang gadai. Sifat pagang gadai ini adalah berfungsi sosial, karena gadai ini biasa terjadi bagi orang yang mempunyai harta dan kekurangan uang, dan begitu pula sebaliknya, yang memegang adalahorang yang mempunyai uang tetapi tidak punya (kekurangan) harta.

Gadai atalah di pihak orang yang mempunyai harta.
Pagang adalah di pihak orang yang mempunyai uang.
Sebagaimana telah kita terangkan dalam halaman yang lalu, gadai ini baru dapat dilaksanakan oleh seseorang di Minangkabau setelah berdiri atau dijumpai syarat yang empat macam, yakni: adat tak ber-

128