terjadi penjualan harta pusaka dan gadai yang tidak menurut syarat yang telah ditentukan oleh adat.
Kato dalam Adat Minangkabau
Kato adalah lafaz yang menghendaki makna. Makna adalah suatu pengertian yang tidak mempunyai huruf dan suara.
Kato terbagi tiga di dalam adat.
- Kato muqabilah
- Kato bakila,
- Kato bahela.
Kato maqubilah, ialah kata-kata di dalam adat yaitu randing nan saiyo, bana nan saukua, bak batang di dalam tanah, tigo puluah tahun di dalam lunau, namun tareh membangun juo. Bak ibarat bungo pinggan, walau pacah basimpang tujuah, bamusim di dalam tanah, namun ragi tak namuah hilang. Artinya, kato ini adalah kato kabanaran yang tidak dapat diubah dan tidak dapat ditukar. Disebut juga kato yang hak yang harus dilaksanakan oleh ninik-mamak dan pemimpin. Kato ini pulalah yang harus ditegakkan dan dituruti.
Kato bakila adalah kato-kato di dalam adat yang tidak dapat dijadikan pedoman dan pegangan, seperti mangambiak contoh ateh kebenaran orang lain, sagalo kato-kato urang napi kasadonyo, nan batuah dirinyo bajo, artinyo perkataan seseorang yang hanya kata dia saja yang benar, dan kata-kata ini diambil dari kata-kata orang lain, yaitu orang yang tidak dapat katanya dibantah, karena kebodohannya.
Kato bahela menghelah seorang lain atas jalan kebenaran. Barih luruih aula terantang, sakato kito mengunjungi bananyo bak bulan katabik, pahamnyo bak api dalam sakam. Di lahia indak mangasan lah anguih sajo mako tahu. Artinya kata yang selalu dihela karena ingin lari dari kebenaran atau orang yang ingin mengatakan dialah yang benar, orang lain tidak benar.
Kato lapaz menghendaki makan. Rundiangan adalah suatu pembicaraan yang menghasilkan suatu maksud.
130