jalo, ka lari ka dalam tanah, dikali jo tambilang, kok ka awang-awang dipasuang jo asok, lamo lambek jatuah jul kasudahannyo.
Sifat kato dan rundingan yang dimaksud di dalam adat ialah: seorang penghulu atau pemimpin dalam masyarakat selalu berusaha untuk membawa orang kepada jalan kebenaran tanpa kekerasan. Tetapi hendaklah dilakukan kebijaksanaan dengan kata-kata yang baik, lunak lembut, karena kata yang lemah-lembut itu merupakan kunci bagi hati manusia, dan sangat perlu lagi metode seperti ini bagi seorang penghulu/pemimpin untuk membawa orang kepada kebenaran, kalau sekiranya orang lain bersikeras kepala tidak patuh, dia tidak mau menerima suatu kebenaran kalau yang menurut pendapatnya tidak diterima oleh orang lain, seperti kata pepatah:
Bungkuak sarueh tak takadang,
Kareh hidung sangiek kaluan,
Nan bak umpamo tukang rabab,
Nan balakubak kato inyo surang,
Nan bana bananyo surang,
Nan di urang bukan ka sadonyo.
Jangan hendaknya terjadi di dalam pemimpin kita untuk membawa
orang kepada suatu kebenaran dengan jalan kekerasan, seperti:
Kuek katam karano tumpu,
Kuek sampiehk karano takan.
Tapi.
Palu-palu Ula dalam baniah,
Baniah tak leso,
Taanah tak lambang.
Panokok tak patah,
Tapi nanula mati juo.
Begitupun sifatnya kato dan rundingan ini berguna sekali dalam
pergaulan sehari-hari karena seorang penghulu akan menjadi contoh dan tauladan bagi anak-kemenakan dan orang banyak, seperti kata Allah swt., Waqulu linnasi husna, artinya berkatalah dengan manusia itu dengan sebaik-baik perkataan
132