Lompat ke isi

Halaman:Pokok-Pokok Pengetahuan Adat Alam Minangkabau.pdf/173

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah

Hukum

Hukum itu:

Ialah mengetahui hakim akan duduk persoalan yang sebenarnya dalam suatu perkara. Umpamanya dalam menyelesaikan perkara dalam suatu perkara gelar pusaka (soko), harta pusaka, sawah ladang, dan lain-lain. Terlebih dahulu hakim hendaklah mempelajari dan menyatakan kepada hakim angota Jainnya, apakah ada di antara hakim ity yang mengetahui duduk perkara yang sebenarnya tentang hal yang disengketakan. Kalau ada yang berilmu atau mengetahui duduk sebenarnya dalam perkara ini, maka hendaklah dihukum menurut ilmu hakim. Kaiau bersalahan hukum dengan ilmu yang sebenarnya maka hukum itu disebut hukum yang tidak sah (hukum berhala).

Hukum bainah:

Bainah di dalam adat adalah tanda-tanda yang dibuat dengan sumpah. Umpamanya, batu pasupadan, batas-batas ladang, seperti batang puding, batang lingundi, batang linjuang dan sebagainya, maka yang demikian disebut bainah. Atau disebut juga pembuatan pasupadan ini (adat balicak pinang batapuang batu) dengan membaca sumpah: Ka ateh indak bapucuak, ka bawah indak baurek, di tangah dilariak kumbang, seumpama karatok tumbuah di batu, hiduik anggan mati tak namuah, kalau imanat tak dipacik, iqara indak dimuliakan. Maka orang yang mempunyai supadin yang disebutkan dinamakan bainah (Atau jihat yang empat), atau suatu perkara yang telah gaib bakalamullah (bersumpah)

Hukum kurenah

Terjadinya hukum kurenah ini adalah dalam perkara kriminal atau sumbang, salah kata adat. Umpamanya pembunuhan, pencurian, perampokan, penipuan, pelangyaran susila dan sebagainya karena nunjukkan laku, bajua batimbang jawab ditanyoi, basuriah bak aipasin, bajajak bak bakiak dan sebagainya, yang akan kita terangkan nant lain tentang, fas142