Ajaran syarak pun mengatakan:
Faiza hankamtum bainannasa fahkumu bil adli. Artinya, apabila kamu menghukum suatu perkara di antara manusia maka hukumlah dengan seadil-adilnya.
Wala tanqisul mikala wal mizana illa bilqisthi. Artinya, janganlah kamu melebihi dan mengurangi dalam menimbang dan bersukat (mengukur) atau menghukum.
Cupak Usali
Yang disebut cupak usali ini seperti yang telah kita uraikan dalam halaman sebelum ini mengenai sifat cupak yang empat macam, yaitu suatu perserikatan yang diumumkan pada segala manusia mengenai cara penghulu dalam nagari menghukum suatu perkara di dalam adat, atau seorang hakim menghukum dalam suatu perkara perdata dan kriminal. Cupak usali ini ialah ukuran yang asli yang datang dari Allah tentang cara-cara melaksanakan penyelesaian dalam suatu sengketa oleh seorang hakim, sehingga dengan demikian akan diperoleh hukum yang adil menurut batas kemampuan seorang manusia atau kemampuan manusia mencapai keadilan di dalam hukum dengan melihat data-data dan fakta-fakta lahiriah. Kata Syarak: Nahnu nahkum bizzawahir wallahu yatawallassair, artinya kita manusia hanya bisa menghukum yang lahir, sedangkan yang batin sebenarnya Tuhan Allah Yang maha mengetahui. Kata pepatah:
Manguk sahabi gang.
Mahawai sahabil raso,
Bapikia suhahih aku,
Kausaho sahabih tulang,
Abih dayo badan talatak,
Alt puhum aka baranti,
ato un putuik sandirinyo,
Manyarah kito pado Tuhan.
Cupak usah terbagi enam
- Dakwa dan jawab,
- hvaladaban bainah,
154