Lompat ke isi

Halaman:Pokok-Pokok Pengetahuan Adat Alam Minangkabau.pdf/28

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah diujibaco

waktunya. Dalam pengertian itu juga tersimpul rasa persaudaraan yang akrab, dan rasa tolong-menolong sesamanya, dan tidak mau bermusuhan, apalagi dimusuhi. Dia membantu sesama manusia bilamana diperlukan dengan tidak membedakan jauh dan dekatnya cara kekeluargaan. Kalau direnungkan, sebenarnya perkataan penghisapan manusia atas manusia lainnya (exploitation der 'homme par Ihomme) tidaklah ada di Minangkabau. Dan adatnya pun tidak membenarkan cara hidup yang demikian berlaku. Kata pepatah adat:

Ma nan ado samo dimakan, nan indak samo dicari,
Mandapek samo balabo, kahilangan samo marugi,
Hati gajah samo dilapah, hati tungau samo dicacah.

Kaluak paku kacang balimbiang,
tampuruang langgang-lenggangkan,
bawo manurun ka Saruaso.
Anak dipangku kamanakan dibimbiang
arang kampuang dipatenggangkan,
tenggang nagari jan binaso,

Jadi, pengertian ini bukanlah pengertian yang picik. Adat kita bukanlah adat yang kaku atau statis, tetapi supel dan dinamis. Menuruti seluruh perubahan masa, gelombang hidup dan revolusi. Dapat berintegrasi dan berasimilasi dengan adat nasional kita dalam bentuk corak bagairnana pun, asal menuju kepada kebaikan, ketinggian moral bangsa Indonesia, sesuai dengan pepatah: "Adat nan tak lakang dek paneh, nan tak lapuak dek hujan.” Dari penjelasan di atas nyatalah bagi kita pemangku-pemangku adat, lebih-lebih penghulu-penghulu, bahwa adat Minangkabau sedikit pun tidak bertentangan dengan Parwasila, malahan adat Minangkabau identik dengan Pancasila, dasar negara Republik Indonesia.

Kesimpulan

Ninik-mamak/penghulu-penghulu yang teguh memegang adat Minangkabau adalah abdinya Pancasila dan pemimpin dalam masyarakat.

Sekarang telah dapat kita pahami, bahwa adat Minangkabau itu tidak bertentangan dengan Pancasila dan tidak pula disesuaikan dengan 8