Lompat ke isi

Halaman:Pokok-Pokok Pengetahuan Adat Alam Minangkabau.pdf/99

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah

Manjauak dihilia-hilia,
Kok bakato di bawah-bawah,
Kalau dianjak urang batu pasupadan,
Diubah urang kato pusako,
Dialiah urang kato nan bana,
Busuangkan dado ang buyuang,
Caliakkan tando laki-laki,
Jan takuik nyawa kamalayang,
Jan cameh darah kataserak,
Basilang tombak dalum parang,
Sabalun aja bapantang mati,
Namun bana dirubah tidak,
Baribu sabab nandatang,
Namun mati hanyo sakali.

Alua (alur) terbagi dua

  1. Alua adat,
  2. Alua pusako.

Alua adat adalah suatu persoalan yang terjadi dalam masyarakat yang dapat diambil dengan kata mufakat (musyawarah).

Alua pusako adalah tiap-tiap persoalan yang terjadi tetapi tidak dapat dimulakati (dimusyawarahkan). Kalau kita ambil, misalnya alur adat (yang dapat dimufakati), ialah aluran yang dibikin oleh manusia, umpamanya alur ladang, tonggak dan sebagainya yang dapat dimufakati, bagaimanakah alurnya yang disukai bersama.

Alua pusako yang tidak dapat diambil dengan kata mufakat, mi- salnya alur mensiang, sianik, sebangsa rumput, alurnya itu tidak dapat diambil dengan kata mufakat, karena dia telah terjadi demikian menurut kehendak yang menjadikan (Allah).

Penjelasan:

Alua adat ialah peraturan-peraturan di dalam adat Minangkabau yang asalnya dibuat dengan kata mufakat oleh penghulu setempat (adat teradat). Maka setiap peraturan yang dibikin oleh ninik-mamak dalam suatu nagari untuk mencapai suatu tujuan atau dalam melaksanakan suatu peraturan pokok, disebut alur adat. Sifatnya dibuat dengan mufakat dan sewaktu-waktu dapat diubah pula dengan kata mufakat.

76