TELAGA DI BAWAH GUNUNG
Angin kencang bukan kepalang, tergerai rambut yang panjang, baju di badan tersimbah-simbah, namun ia terus berlari.
Diikutinya dari belakang, mengejar gadis tersebut, karena lama berkejaran, tangan Puti Marintan Aluih, dapat diraih Marah Baganti. Digenggamnya erat-erat, tidak bisa mengelak lagi. Gelak tawa berderai-derai.
Kian tersirap darah di dada, terguncang iman anak muda, melihat rupa gadis tersebut, cantik yang bukan alang kepalang, seperti dilukis digambarkan.
Bunyi nafas tersengal-sengal, seperti kuda sedang dipacu, peluhnya bersimbah di badan. Konon Puti Marintan Aluih, takut bercampur dengan cemas, malu yang tidak tertahankan.
Berkata Marah Baganti, gelaknya berderai-derai, “Wahai Puti adik denai1, ke mana lagi akan berlari, tidak akan lepas dari tangan.”
Puti Marintan Aluih menjawab, berkata bermanja-manja, “Tuan lepaskanlah tangan denai, malu dilihat orang yang lewat. Jika ada yang melihat, betapa buruk disangka orang, Tuan bujang denai pun gadis. Tuan lepaskanlah tangan denai.”
1) Saya
3