Marah Baganti gelak terbahak, sambil bercanda dan berkecandan, “Denai bukan orang yang bodoh, denai tidak bermaksud jahat, denai juga bukan orang gila, hanya saja tergila-gila, kepada Adik seorang.
Siapa gerangan nama Adik, cantik bukan alang kepalang, rambut seperti mayang mengurai, di muka cincin taruhan, di tangan ombak baralun2.
Kian memerah pipi yang kuning, mendengar kata seperti itu, sambil menekur dia berucap, “Tuan janganlah berandai-andai, lepaskanlah tangan denai, genggaman Tuan sangat kuat, tangan denai terasa sakit.
O, Tuan ampunkanlah denai, denai ingin segera kembali, hendak berbaik ke atas gunung, mandeh sudah rusuh di rumah, menanti denai yang belum pulang, sudah lama denai di sini, bermain-main di atas dunia.”
Marah Baganti geli hatinya, ia jadi semakin berhasrat. “Adik Kandung tolonglah jawab, siapakah gerangan nama Adik? dengan siapa adik kemari? Dari mana hendak ke mana? Mengapa hanya sendiri saja?”
“Tolong maafkan wahai Tuan, denai bukan orang sini, denai bukan bangsa manusia, denai adalah bangsa mambang3, turun dari puncak Marapi. Kami kemari bersama-sama, mandi-mandi di pincuran tujuh, berjalan-jalan ke atas dunia.
Malang celaka badan denai, terkejut kami oleh Tuan, kawan denai terbang berhamburan, cincin keramat dibawanya, yang terletak di dalam puti4, ketika mereka berlarian. Oleh karena demikian, badan yang halus menjadi kasar, tidak bisa menghilang lagi. O, Tuan lepaskanlah tangan denai, denai hendak kembali pulang.”
Marah Baganti terbahak bahak, mendengar kata Puti Marintan. Besar hatinya bukan kepalang, mendapat durian runtuh, pucuk dicinta ulam pun tiba.
2) ungkapan untuk gadis yang cantik 3) Sebangsa makhluk halus 4) Sejenis cerana
5