“Adik Kandung tolong maafkan, Adik tidak akan dilepaskan, denai mendapat durian runtuh, pucuk dicinta ulam tiba, aie dalam karang manonggok, setanggi campua kumayan, sirindu bacinto hati5, adik tidak boleh kembali.”
Gelaknya berderai-derai, habis hari berkelakar, sambil bercanda berkecandan, tangan yang mulus dipegangnya jua.
Hari sudah larut petang, burung berbondong pulang ke sarang, ternak bergegas berbalik pulang. Akan tetapi Marah dan Puti, masih terbuai dimabuk cinta, keduanya sama terpedaya. Air mata jatuh di pipinya.
“Apakah Tuan tidak hiba, betapa rusuh mandeh denai, cemas memikirkan diri denai, sudah tergamang mande kini, pergi yang belum kembali pulang, berusuh hati siang dan malam, rindu akan diri denai.”
Marah Baganti pun berkata, berkata dengan bersungguhsungguh, “Adik Kandung Puti Marintan, jika adik ingin pergi juga, tidak boleh pergi sendiri. Biarkan denai mengantarkan, denai tak mau tinggal sendiri, sia-sia denai melepas, kalau adik berjalan sendiri, melawati hutan belantara, denai cinta kepada Adik.”
“Dengarkan Tuan Marah Baganti, tidak boleh Tuan ikut, kita bukan orang sebangsa. Cobalah Tuan pikirkan, manalah bisa kita berjodoh, Tuan di dunia denai di langit.
Denai tahu kasihnya Tuan, Tuan pun tahu kasihnya denai. Namun walaupun begitu, jika dikaji asal dan usul, tidak baik kita berjodoh, akhirnya akan buruk juga.”
Marah Baganti duduk termenung, air mata bercucuran, berhiba di dalam hati.
5) Ungkapan gembira
7