“Adik Kandung Marintan Aluih, tidakkah hiba melihat denai, sampai hati adik berjalan, meninggalkan denai sendiri, yang sedang dimabuk kepayang.
Biarlah denai mati di sini, dari pada berputih mata, lebih baik mati berputih tulang. Tikamlah denai dengan keris, janganlah adik banyak elak, nampaknya adik tidak percaya,
hati yang tengah tiga
mau tapi tidak percaya.
Apa gunanya denai hidup, ambillah keris tikamlah dada, agar senang hati berjalan, jangan diingat-ingat lagi.”
Puti Marintan terkesima, rasa disinggung ujung jantungnya, hangus terasa di dalam dada. Hati lekat cinta melekat, karena mata palingan setan, karena hati palingan Allah, keduanya gagah dan cantik, masih sama muda mentah. Ia berkata waktu itu, “Wahai Tuan Marah Baganti, cobalah Tuan pikirkan, manalah mungkin denai dan Tuan, apa kata orang banyak, apa kata mandeh dan bapak, bagaimana nasib badan denai, denai berjalan mencari jodoh, apakah patut diliat orang, tidak biasa seperti itu. Dunsanak denai akan malu, jadi tertawaan orang kampung, jadi gunjingan orang akhirnya.
Coba pikirkan di sisi lain, karena kita tidak sebangsa, walau denai masih berbangsa, tentu hina di bangsa Tuan. Begitupun dengan Tuan, walaupun Tuan raja di sini, di negeri denai rendah juga. Begitu adat sejak dahulu, begitu aturan yang berlaku, berlaku sejak dahulunya, sejak semula air hilir, sejak semula awan putih, sejak selama gagak hitam, sampai kini belum berubah. Tolonglah Tuan pikirkan.”
“Apa yang Adik katakan, itulah yang sebenarnya. Tapi sungguhkan demikian, denai tidak akan peduli. Mengapa didengar kata orang, mengapa didengar ini dan itu, mengapa menyiksa diri, jika kita saling menyinta. Mengapa dihitung laba rugi, seperti orang
9