berdagang, mengukur benda dengan uang. Kasih denai tidak begitu, denai tidak mendua hati, jangan diukur dengan harta, jangan dinilai dan ditawar. Kalaupun hendak menimbang juga, ukurannya nyawa dan badan.”
Marintan Aluih gelak tersenyum, pipi memerah seperti jambu, membuatnya semakin cantik. Ia berkata sambil menekur, “Tuan denai Marah Baganti, jika kasih yang Tuan sebut, kasih terdorong kepada Tuan, kasih terjerat di dalam hati, walau berpisah nyawa dan badan, hanya Tuan tambatan jiwa. Denai lupa kepada diri, denai lupa kepada asal, karena sudah dimabuk cinta.”
Mendengar hal seperti itu, karena kasihnya bersambut, dan cintanya juga berbalas, bertepuk tidak sebelah tangan, hati yang sedang berbunga-bunga, sejuk rasanya di dalam jiwa, senanglah hatinya waktu itu, bercampur harap-harap cemas.
“Wahai Puti Marintan Aluih, Adik Kandung sibiran tulang, cahaya mata idaman hati, satu hal lagi denai katakan, yang akan Adik pikirkan betul.
Menyangkut diri denai ini, sudah lama denai mencari, sudah banyak rantau yang terjelang, dari Agam tanah darek6, sampai ke ranah Lima Puluh, sampai ke Luhak Tanah Data, sudah denai tempuh dan jalani, lalu ke Kubang Tigo Baleh, sampai ke Ranah Sungai Pagu, banyak anak raja-raja, serta putri yang pilihan, tiada yang menyangkut di hati. Ada yang cantik ada yang manis, yang berpipi bak pauh dilayang, nan bamato galinggang lalok, nan bapandangan sirauik jatuah7. Bibirnya bak asam seulas, senyumnya rengkah menawan, giginya bak gewang diasah. Begitupun budi bahasanya, seirama dengan wajahnya, mulut manis pandai berkata, santun menanti tamu yang datang. Kalau hidangannya pun begitu, seperti bunga kembang setaman, indah rupa dan harum baunya, senduk nasi bak semut beriring, tuangan airnya tak tumpah, pandai memasak dan menggulai, tahu menyulam menerawang, pintar menenun dan menjahit. Sudah lengkap yang ditemui, berbagai bentuk dan rupanya.”
- 6) Daerah asli Minangkabau
- 7) Gambaran gadis cantik
11