Mendengar hal seperti itu, Puti Marintan jadi merajuk. Tumbuh cemburu di dalam hati, rasa dikias dan disindir, Puti Marintan pun berkata, “Wahai Tuan Kandung denai, jika begitu kata Tuan, berapa banyak para gadis, serta puti yang pilihan, mengapa Tuan mendaya denai, serta menggoda dan merayu, denai tidak pantas dengan Tuan, orang dunia banyak yang bertuah, banyak yang sakti dan keramat, Tuan emas denai tembaga, bak menantang matahari.”
Marah Mananti gelak tersungging, geli hatinya mendengarkan, jerat ditahan burung hinggap, umpan diserak ikanpun tiba. Hatinya bertambah besar.
“Adik denai Puti Marintan, dengarkanlah yang denai katakan, biarpun puti dari laut, atau mambang dari langit, yang di hati hanyalah Adik. Mengapa begitu kata denai, karena Adik bertemu, di telaga di bawah gunung.
Dengarkanlah cerita denai, sewaktu bapak menasehati, serta menunjuk ajari, beliau berpesan waktu itu, jika anak mencari jodoh, carilah jodoh kemana-mana, biar di laut atau di darat, meskipun sampai ke langit tinggi, yang akan menjadi jodoh anak, ialah yang memakai tanda, di antara mata dan bibirnya, tahi lalat di bawah matanya, itulah perempuan bertuah, limpapeh di rumah gadang8, bunga di dalam negeri, itulah sumber kehidupan. Wahai Puti Marintan Aluih, tanda itu ada pada Adik.”
Tersungging senyum di bibir, memerah pipi yang padat, hati jadi berbunga-bunga, Hatinya sudah terpaut, keputusannya sudah bulat.
Masa habis musim berlalu, sudah berbilang bulan dan tahun, entah sudah berapa lamanya, Marah Baganti dan Marintan, sudah menjadi suami istri. Kasih berpadu tiap hari, setapak tidak bercerai, semiang enggan berganggang. Ke lurah sama menurun, ke bukit
8) Sebutan perempuan Minangkabau
13