Lompat ke isi

Halaman:Puti Marintan Aluih.pdf/26

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah

sama mendaki. Karena pandai bersopan santun, jadi kesayangan ayah ibu, jadi taruhan rumah gadang, pujaan kawan dalam kampung, besar kecil sayang semua.

Adalah pada suatu hari, burung berkicau di atas dahan, ayam berkokok dari jauh. Perasaan hati bergemuruh, risau bercampur cemas.

PutiMarintan sedang mengandung, teringat badan di rantau orang, terbayang mandeh dan bapak, rindu pada kampung halaman, serta tepian tempat mandi.

Melihat hal seperti itu, Marah Baganti pun berkata, “Adik Kandung Marintan Aluih, tenangkanlah pikiran dan hati, usah disebut untuk kembali.”

Tergenang air matanya, remuk rasanya di dalam hati. Ia berkata sambil menghiba, “Junjungan denai Marah Baganti, maksud kita sudah tercapai, denai teringat kembali pulang, terbayang tepian tempat mandi, terbayang kawan sama besar, begitu juga rumah gadang, pastilah sudah sunyi sekarang.

Hilang ayam panaiak bandua, nan indak baluluak lai9. Sudah kosong anjung peranginan, sudah kusut benang di tenunan. Menyangkut mande kandung denai, mungkin sedang sakit-sakitan, sudah kurus badan beliau, siang malam menanggung rindu.”

“Kalau itu yang Adik mau, akan sengsara badan diri, dengan siapa denai tinggal, belum pernah kita bercerai, belum berpisah walau sekali.

Selama kita berumah tangga, benar yang dikatakan bapak, hidup kita tidaklah miskin, bak telaga di bawah gunung, banyak rezeki yang datang, terbuka pintu pencarian.

Sudah mampu membuat rumah, sudah bersawah dan berladang, beberapa ternak kerbau dan sapi, itik dan ayam ada juga. Emas perak kain dan baju, rasanya tidak ada yang kurang.

9) Gambaran suasana kehilangan

15