Lompat ke isi

Halaman:Puti Marintan Aluih.pdf/28

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah

Jika adik ingin kembali pulang, terban rasanya tanah yang diinjak, patah dahan tempat bergantung, putuslah tali tempat bergayut, kemana denai akan mengadu.”

“Tuan denai Marah Baganti, denai tidak pernah ragu. Jika rindu korong dan kampung, Tuan tidak denai tinggalkan, denai juga akan melahirkan.

Jika sampai pemberian Allah, jika anak kita sudah lahir, hanya satu permintaan denai, kita bawa anak pergi, mengunjungi kakek neneknya, ke atas Gunung Marapi.”

“Bagaimana mungkin denai pergi, badan denai sekasar ini. Mana bisa denai terbang, menjadi bangsa orang halus.”

Gelak bergumam Marintan Aluih, kemudian diapun berkata, “Sekarang dengarkan oleh Tuan, jika Tuan mau pergi, denai katakan rahasianya. Nantikan dulu anak lahir, baru kita akan berangkat.”

Heran tercengang Marah Baganti, mendengar perkataan itu. Hatinya bertanya-tanya, apa gerangan rahasianya. Ia semakin harapharap cemas, menuggu waktu untuk berangkat, habis siang berganti malam, menunggu anaknya lahir.

Karena lama kelamaan, sudah sembilan bulan mengandung, lahirlah anak Puti Marintan, seorang anak laki-laki, yang gagah bukan kepalang. Gadangnyo bak dilambuak-lambuak, tingginyo bak dijunjuang-junjuang10, kesayangan mandeh dan bapaknya, jadi pamenang petang dan pagi, diberi nama Mancayo Alam.

Adalah pada suatu hari, teringat janji yang dahulu, hendak membawa Mancayo Alam, ke atas Gunung Marapi, menjelang mandeh kandung, melihat nenek Mancayo Alam.

Mereka pun mulai berangkat, didukung Mancayo Alam, oleh bapaknya Marah Baganti. Sudah banyak rimba dilalui, dan sungai yang diseberangi, padang yang luas dilampaui, lalu mereka pun mendaki.

10) Cepat tumbuh besar

17