Lompat ke isi

Halaman:Puti Marintan Aluih.pdf/30

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah

Sepuas-puas mendaki, lalu kemudian menurun, binatang rimba berdengusan, ular melingkar di atas kataduang11, mengintai di balik dahan, harimau melintas di jalan. Mereka pun menjadi takut, serasa hilang nyawa di badan, dilulur ular-ular besar, dicabik-cabik beruang hutan.

Mereka pun merasa penat, karena telah lama mendaki, Marintan Aluih pun berkata, “Tuan Kandung denai, sudah jauh kita berjalan, sudah penat Tuan mendukung, marilah denai gantikan.”

Marah Baganti pun menjawab, peluhnya rinai di kening, punggungnya pun sudah basah.

“Biarlah denai yang mendukungnya, rimba raya yang kita tempuh, berapa banyak pesawangan, terus saja kita berjalan.”

Karena lama di perjalanan, bersua jalan mendatar, menempuh padang ilalang, terlihat telaga dari situ. Puti Marintan Aluih berkata, “Tuan kita sudah sampai, di telaga Pincuran Puti. Sementara hari belum tinggi, lebih baik kita bersegera, agar sampai di hari ini. Wajah mandeh sudah terbayang.”

“Jika begitu kata Adik, denai hanya menurut saja, apa yang akan denai lakukan?”

“Marilah kita bergegas, menuju Pincuran Puti. Jika kita sudah mandi, badan akan segera berubah, tubuh yang kasar menjadi halus. Pemandangan akan berubah, seketika, yang gaib akan kelihatan. Usah Tuan terkejut-kejut, atau gamang sesudah itu.”

Mereka pun turun dan masuk, ke dalam Pincuran Puti, mandi berkecimpung-kecimpung, kecimpung kaki berbalas tangan, ramai bunyinya bak telempong.

Tak lama setelah itu, Puti Marintan pun tergelak, tawanya berderai-derai. “Bagaimana perasaan Tuan, apa yang Tuan rasakan kini? Tubuh kita sudah halus. Jika orang lewat di sini, mereka tidak akan melihat kita.”

11) Nama pohon

19