Sungguh terkejut Marah Baganti, melihat badannya sudah berubah, menjadi bening seperti kaca, jernih seperti mata kucing. Bercampur heran dan tercengang,
“Adik Kandung Marintan Aluih, mengapa begini badan denai, seperti bayang-bayang. Tergamang rasanya hati, serasa melayang di udara. Adik kandung Marintan Aluih, tolong pegangkan badan denai.”
Puti Marintan Aluih, yang mendengar kata begitu, hatinya riang bukan kepalang. “Janganlah Tuan terlalu gamang, hal itu tidaklah mengapa. Cobalah lihat ke luar kolam, bisakah Tuan melihat, rumah gadang bersusun-susun, lumbung padi bersusun, jalan ramai lebuh yang lurus.”
Marah Baganti pun melihat, ke arah luar kolam itu. Nampaklah orang hilir mudik, ramainya bukan kepalang, beberapa rumah gadang, rumah yang beratap ijuk, bertatah dan berukir-ukir, ukiran berpilin akar cina, rumah gonjong bertatah timah, beranjung bermega-mega.
“Sangat heran denai melihat, dari mana datangnya orang, mengapa seramai ini, rancak betul negerinya, kaya-kaya penduduknya.”
Berkata Marintan Aluih, “Tuan Kandung Marah Baganti, adapun negeri ini, bukanya datang kemudian, bukannya turun dari langit, sewaktu Tuan bertubuh kasar, tidaklah bisa melihatnya.
Ketika melewati rimba, itu bukan rimba belantara, kita lewat di negeri ini, namun tidak terlihat mata, karena kita bertubuh kasar. Itu sebabnya maka dilarang, jika lalu di rimba raya, mulut jangan sampai terdorong, kata usah sampai terlompat, karena rimba berpenghuni.”
“Adik denai Marintan Aluih, tergamang betul badan denai. Bagaimana denai kembali, denai rusuh tentang itu, tubuh tidak bisa
21