Lompat ke isi

Halaman:Puti Marintan Aluih.pdf/34

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah diujibaco

kasar lagi. Akan sansai badan diri, tidak bertemu orang kampung, tinggal tepian tempat mandi. Apalah kata mandeh kandung.”

Gelak berderai Puti Marintan Aluih. Tanya dijawab dengan canda.

Karena sudah lama di sana, mereka berjalan masuk kampung, langsung ke rumah mandeh kandung.

Habis hari berbilang pekan, bulan berganti dengan tahun, sudah bermusim pula di sana. Marah Baganti terlihat muram, banyak terpikir di dalam hati.

Adalah pada suatu hari, melihat hal yang demikian, Puti Marintan pun berkata, “Tuan Kandung Marah Baganti, anak kita Mancayo Alam, “besarnya bak dilambuak-lambuak, tingginya bak dijunjuang-junjuang.” Senanglah hati melihatnya, tapi nakalnya bukan kepalang, suka berkelahi setiap hari, tidak pernah merasa takut, sangat terkenal keberaniannya.”

“Adik Kandung Maritan Aluih, anak kita memang sudah besar, bisa jadi teman bermain, buah hati limpo bakuruang12, obat jerih pelerai deman, sidingin tanpa di kapalo13.”

Berkata pula Marintan Aluih, berkata smbil berhiba-hiba. “Hanya satu yang terasa, Tuan tidak senang di sini. Mengapa Tuan rusuh saja, gila bermenung tiap hari. apa yang kurang pada kita? Jika Tuan ingat janji dulu, jika tidak sama dicari, yang ada sama dimakan, ke lurah sama menurun, ke bukit sama mendaki, sepantun aur dengan tebing, sakit senang ditanggung berdua. Itu janji kita dahulu.”

Mendengar kata demikian, duduk termenung Marah Baganti. Bertambah larut sedih di hati.

“Adik Kandung Marintan Aluih, mengapa Adik berkata itu, denai tidak pernah berubah.”

12) Ungkapan sayang kepada anak
13) Penawar

23