Menjawab pula Marintan Aluih, “Walaupun memang seperti itu, jika Tuan berusuh hati, hiba denai melihatnya. Apa yang Tuan inginkan, kalau jauh akan denai turut, kalau dekat akan denai jemput. Coba katakan kepada denai.”
Mendengar kata demikian, Marah Baganti semakin remuk. Jika dikatakan terus terang, hiba hati Marintan Aluih. Jika disimpan di dalam hati, semakin remuk rasa di dada, duduk tegak berhati sedih. Marah Baganti pun berkata.
“Adik Kandung Marintan Aluih, dengarkanlah kata denai, sudah bermusim denai di sini, sudah berbilang bulan dan tahun. Sedari kecil anak kita, sampai pandai bermain sendiri.
Adik Kandung Marintan Aluih, sudah rindu denai ingin pulang. Teringat mande dan bapak, teringat tepian tempat mandi. Apa yang bisa denai lakukan, badan denai sehalus ini.”
“Kalau itu yang Tuan katakan, mengapa pula berhiba hati, mengapa dibawa bermenung, bisa kurus badan Tuan. Mengapa Tuan diam saja, mengapa Tuan simpan sendiri. Jika rindu yang Tuan katakan, denai pernah mengalaminya, remuk rasanya di dalam hati. Denai bisa merasakannya, ketika denai di kampung Tuan.
Setinggi-tinggi melanting, jatuhnya ke tanah juga. Sejauhjauh terbang bangau, hinggapnya di kubangan juga. Itu hal yang biasa Tuan, tandanya berkorong dan berkampung.”
Senang hatinya Marah Baganti, mendengar jawaban Marintan Aluih. Perasaannya menjadi tenang, pikiran menjadi jernih. Lalu ia pun berkata, “Sebabnya denai berdiam diri, makanya tidak denai katakan, takut adik salah terima. Dikatakan denai mengingkari, semua janji yang terucap, dikatakan denai tidak sayang, kepada Mancayo Alam, atau berubah kepada adik.
Itulah yang merusuh, jika terjadi seperti itu, makin terhiba di dalam hati. Itulah makanya denai diam, tidak berkata apa-apa.”
25